Sunday, August 5, 2018

Apakah Sifat Adiktif Benar Benar Nyata?


Apa benar bahwa heroin bisa menyebabkan kecanduan atau sifat adiktif?

Mungkin untuk sebagian orangmungkin pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang sangat konyol, bukan? 

Tentu jawabannya adalah Iya, jelas. Kita semua tahu tentang itu. Heroin menyebabkan kecanduan heroin. Beginilah cara kerjanya.

Jika kamu menggunakan heroin selama 20 hari setiap hari secara terus menerus. Pada hari ke-21. Tubuh kamu secara fisik akan meminta kamu untuk mengkonsumi heroin tersebut karena ada reaksi kimia di dalam zat tersebut. Itu makna dari ketagihan / kecanduan / adiktif. Itu yang selama ini kita mengerti tentang topik ini.

Hampir semua orang berfikir bahwa hal yang kita tahu tentang adiktif itu adalah salah.

Sebagai contoh, jika kamu mengalami sebuah kecelakaan dan sialnya kamu mengalami patah tulang atau istilah medis nya disebut Fraktur, mau tidak mau kamu harus pergi ke rumah sakit untuk ditangani oleh paramedis. Pada masa perawatan, kamu akan di beri banyak sekali cairan Diamorphine dalam jangka waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Diamorphine sendiri adalah sejenis zat Heroin.

Faktanya, dosis Diamorphine tentu lebih kuat dibandingkan dengan Heroin yang biasa dijual oleh pada bandir pengedar narkoba. Hal ini disebabkan karena Diamorphine tidak terkontaminasi oleh zat apapun, berbeda dengan heroin yang di jual secara illegal di pasar gelap. Jadi kita tahu bahwa orang yang dirawat di rumah sakit juga mengkonsumsi heroin. Tapi, adakah dari mereka yang menjadi pecandu?

Pertanyaan di atas bukan sekedar pertanyaan tidak berbobot atau mungkin terdengar konyol. Sebuah penelitian pernah di lakukan berdasarkan pertanyaan tersebut.

Beberapa teori tentang adiktif saat ini datang dari sebuah bagian dari serangkaian eksperimen yang dilakukan pada awal abad ke-20. Eksperimennya sangat simple. Letakkan seekor tikus di sebuah kandang dan letakkan dua botol air di dalam kandang tersebut. Satu botol berisi air biasa dan satu botol yang lainnya berisi air yang di campur dengan heroin atau kokain.

Setiap kamu menjalankan eksperimen ini, tikus akan terus terobsesi terhadap air yang beracun (yang sudah di campur kokain atau heroin) dan terus menerus kembali untuk minum sebanyak-banyaknya, sampai hal tersebut membunuh dirinya sendiri. Namun pada 1970, Bruce Alexander, seorang Profesor Psikologi memberitahu sesuatu hal yang aneh dari eksperimen ini.

Tikus tersebut di letakkan di dalam kandang sendirian. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali meminum air beracun tersebut. Apa yang akan terjadi jika kita melakukan suatu eksperimen yang berbeda? Jadi, Professor tersebut membuat sebuah taman tikus (seperti kandang yang berisi banyak tikus) yang mungkin menjadi surga bagi para tikus.

Sebuah taman yang besar yang dimana banyak sekali bola berwarna-warni, lorong permainan, banyak teman untuk bermain dan mereka bisa melakukan sex. Semua hal yang tikus mau pasti ada di taman tersebut. Dan tentu saja, mereka meletakkan dua botol yang diisi air biasa dan air yang sudah di campur dengan kokain atau heroin.

Disini hal menarik mulai terjadi. Di taman tikus tersebut, tikus-tikus tersebut hampir tidak pernah meminum air yang beracun tersebut. Tidak satupun dari mereka yang pernah menggunakannya secara kompulsif; tidak satupun dari mereka yang pernah overdosis.

Ternyata ada juga sebuah eksperimen manusia dengan topik yang sama juga, yaitu Perang Vietnam. 20% dari tentara Amerika Serikat menggunakan banyak sekali heroin pada saat itu. Orang yang kembali pada saat perang vietnam berakhir menjadi sangat panik, karena mereka pikir akan ada ratusan atau ribuan pecandu di jalanan Amerika Serikat pada saat perang usai.

Tapi ada suatu studi yang meneliti tentang tentara yang menggunakan heroin dan pulang kerumahnya yang menemukan sesuatu yang mengejutkan. Mereka (para tentara) tidak pergi ke rehabilitasi, mereka juga tidak menarik diri (dari sosial). 95% dari mereka berhenti mekonsumsi heroin pada saat mereka sudah kembali bersama keluarga mereka di rumah.

Jika kamu percaya tentang teori lama tentang adiktif, itu tidak masuk akal. Tapi jika kamu percaya dengan teori dari Dr. Alexandre, itu baru masuk akal.

Karena jika kamu berada di sebuah hutan yang menyeramkan di negara yang asing dimana kamu tidak mau terbunuh dan mati pada momen itu. Mekonsumsi heroin merupakan jalan satu-satunya. ini merupakan analogi dari eksperimen tikus yang pertama. Tapi  jika kamu kembali kerumah dan berkumpul bersama keluarga dan teman-temanmu, itu sama saja dengan keluar dari kandang eksperimen yang pertama dan masuk ke taman tikus di eksperimen yang kedua.

Kita perlu berpikir berbeda tentang adiktif, Manusia memiliki kebutuhan untuk saling terhubung satu sama lain (Makhluk Sosial). Ketika kita merasa senang dan sehat sejahtera, kita akan dengan senang hati terhubung dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Tapi hal ini sedikit berbeda, jika kita mengalami trauma, dikucilkan, atau dipecundangi oleh kehidupan. Kamu akan mulai terhubung dengan suatu hal yang memberimu kepuasan sementara.

Mungkin dengan memeriksa smartphone mu terus menerus, menonton video porno, bermain games, berjudi atau mungkin mekonsumsi heroin.

Kecanduan hanyalah salah satu gejala krisis pemutusan hubungan yang terjadi di sekitar kita. Kita tentu dapat merasakan itu. Sejak 1950, rata-rata jumlah teman dekat orang amerika terus menurun. Pada saat yang sama, jumlah ruangan dan lantai dirumah mereka terus meluas. Kita mulai memilih teman dan hal yang dimana kita pasti akan terhubung di dalamnya.

Narkoba yang kita perangi pada abad ini membuat semuanya terlihat buruk. Dibandingkan dengan menyembuhkan orang dan hidup bersama-sama. Kita kadang malah mengucilkan pecandu dari masyarakat. Kita membuat mereka menjadi sulit mendapatkan pekerjaan. Kita melempar mereka ke dalam penjara yang dimana itu sebuah 'kandang' untuk mereka. kita dalam situasi dimana membuat mereka merasa lebih buruk dengan menjadi malas untuk sembuh dari pecandu narkoba.'

Kita harus membuat masyarakat seperti 'taman tikus' tersebut dan mengurangi kesan masyarakat seperti di eksperimen pertama. Kita harus mengubah cara kita hidup kita dan mulai mendukung satu sama lain (dalam kebaikan).